Superior Business

Bisnis yang diwaralabakan seyogyanya merupakan suatu bisnis yang masuk kategori Superior Business. Faktanya, tidak semua yang hendak menjadi Pemberi Waralaba masuk kriteria ini.

Mengapa harus superior bisnisnya?

Beban Biaya Awal Waralaba

Investasi yang dibutuhkan untuk bisnis waralaba relatif lebih tinggi daripada bisnis dengan merek sendiri. Total investasi dikenai biaya awal waralaba yang seringkali cukup signifikan nilainya. Biaya awal waralaba ini bukan hal yang tidak wajar. Investor mendapat bantuan yang memperlancar persiapan gerai barunya. Selain itu biaya awal waralaba menjadi semacam royalti yang dibayar di muka, selain nantinya ada royalti yang harus dibayarkan bulanan.

Beban Biaya Royalti Bulanan

Selain biaya awal waralaba, biasanya ada biaya royalti bulanan. Biaya royalti bulanan ini merupakan imbalam atas peran merek yang diangggap memberikan peluang pencapaian nilai penjualan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kalau menggunakan merek lain, atau merek milik investor sendiri.

Biaya royalti bulanan ini menjadi komponen tambahan pada beban biaya operasional, sehingga berdampak pada berkurangnya laba usaha.  

Mundurnya Jangka Waktu Balik Modal

Bayangkan, biaya investasi meningkat, laba usaha turun. Akibatnya, jangka waktu balik modal akan mundur bila total penjualan dan nominal laba usaha tidak meningkat secara signifikan terkait penggunaan merek dan sistem bisnis milik Pemberi Waralaba.

Untuk memberikan gambaran mengenai kinerja yang kurang bagus, perhatikan ilustrasi di bawah ini:

 

Ada kalanya pemilik merek hanya mampu mencapai angka penjualan Rp 20 juta, yang berarti jangka waktu balik modalnya 25 bulan, bila milik sendiri. Namun karena hendak mewaralabakan bisnisnya, maka ia menghitung target yang dibutuhkan agar penawarannya menarik, lalu menemukan target itu adalah Rp 32 juta, agar balik modal Penerima Waralaba bisa 26 bulanan, seperti gambar berikut ini:

Agar penawarannya menarik, maka ia membuat proyeksi keuangan dengan target penjualan Rp 32 juta. Itu sebabnya tampilan angka “proyeksi” kinerja keuangan dalam brosur beberapa penawaran waralaba, BO, dan kemitraan seringkali merupakan “target” yang sulit dicapai ... bahkan ada beberapa pemilik merek yang tidak pernah mencapai target tersebut, atau kalaupun pernah mencapai angka tersebut ... hanya satu dua gerai saja dari antara puluhan gerai yang ada.

Ketika pengalaman Pemberi Waralaba hanya di level penjualan Rp 20 juta dan bila Penerima Waralaba tidak cukup beruntung untuk memiliki kinerja di atas Pemberi Waralaba, maka jangka waktu balik modal Penerima Waralaba ini adalah 43 bulan, bukan 26 bulanan sebagaimana proyeksi keuangan yang disajikan Pemberi Waralaba.

Mencermati Kecurangan

Selain kecurangan terkait total penjualan yang tidak pernah atau sulit dicapai, dapat pula ditemukan praktek yang hanya memasukkan “paket waralaba” (yang sebenarnya tidak lengkap untuk mulai menjalankan bisnis tersebut) sebagai dasar perhitungan jangka waktu balik modal. Beberapa item yang sering disembunyikan antara lain biaya renovasi, pembelian AC (bila memerlukan AC), atau biaya pembelian chiller & freezer (pada bisnis restoran) agar jangka waktu balik modal terlihat lebih cepat dari yang sebenarnya.

Di sisi biaya operasional, kadang masih dijumpai biaya sewa tidak dimasukkan ke dalam biaya operasional, atau dimasukkan dengan angka yang sangat rendah, dengan alasan tempat usaha tersebut milik sendiri. Dengan menyingkirkan biaya sewa, maka laba usaha terlihat lebih tinggi, sehingga jangka waktu balik modal pun terlihat seolah lebih cepat.

Pemberi Waralaba seyogyanya menjalankan bisnis dan menawarkan waralaba dengan jujur dan transparan. Calon investor harus jeli dan selalu menanyakan apakah angka target penjualan itu merupakan angka yang relatif moderat dan tidak sulit dicapai, dan gerai mana saja yang mencapai angka tersebut, atau ada berapa gerai yang benar-benar mencapai angka penjualan itu. Tanyakan pula apakah ada biaya lain lagi selain “paket waralaba” atau “paket investasi” yang ditawarkan oleh Pemberi Waralaba.

(Jakarta, Agustus 2016)

© 2016, Utomo Njoto

Senior Franchise Consultant dari FT Consulting – Indonesia.

Website: www.consultft.com

Email : utomo@consultft.com

“Barang Busuk”
Seorang terwaralaba mengeluh, “Wah, saya salah pilih franchise asing. Merek ini dulu bagus banget, tapi pas saya beli franchise-nya ternyata sudah busuk alias berdarah-darah bisnis ini”.
Read More
BO Gerobak, Bukan Waralaba ?
Suatu kerjasama disebut waralaba apabila memenuhi beberapa persyaratan, yang mungkin berbeda antara satu negara dengan negara lain, antara satu konsultan dengan konsultan lain. Salah satu kriteria ker
Read More
Multi-Strategy
Waralaba sejatinya merupakan salah satu cara mengembangkan usaha, dan menurut UU Perdagangan waralaba merupakan salah satu cara distribusi produk (barang atau jasa) secara tidak langsung. Karena merup
Read More
Terwaralaba Optimis versus Pesimis
Apa bedanya terwaralaba yang optimistik dengan terwaralaba pesimistik? Fred Berni, konsultan franchise recruitment, menceritakan bahwa ketika kinerja bisnisnya sedang kurang baik, terwaralaba yang
Read More