Menggali Potensi Kewirausahaan di Jawa Timur

Bulan lalu, Majalah Franchise Indonesia bersama Neo Organizer dan Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), menggelar pameran franchise atau Info Franchise & Business Concept (IFBC) di Surabaya. Bertempat di The Square Ballroom ICBC Center (Eks. Gedung Gelael), Jl. Basuki Rahmat 16-18, pameran kali ini mengambil tema  “Empowering Indonesian Entrepreneurs”. Pameran tersebut bukan hanya sekali diselengarakan di Surabaya, namun hampir setiap tahun kita rutin menggelar pameran di sana.

Bukan tanpa sebab kami menggelar pameran di kota yang dikenal sebagai kota pahlawan tersebut secara rutin setiap tahunnya. Karena di kota tersebut, terutama di Jawa Timur, semangat kewirausahawan tidak pernah redup. Buktinya, setiap tahunnnya selalu muncul usaha-usaha baru, baik masih level UKM maupun yang sudah waralaba atau business opportunity.

Tak heran jika Jawa Timur selalu melahirkan merek-merek waralaba sukses. Sebut saja Kebab Turki Babarafi, Coffee Toffee, Miracle Clinic, De Boliva, Sate Lisidu, Mushroom Factory, Rodex Tour & Travel, Air Minum Biru, Bakso Kepala Sapi, Warung Tekko, Bakso Cak Man, Laundry Zone, Bakso Iga Sapi, Tirta Ayu Spa, Bebek Rabek, Bebek Pak Jos, Pasmira, dan sebagainya. Saat ini juga mulai bermunculan pemain baru yang punya potensi besar jika dikembangkan, yaitu Bon Café, Porong Wei, Coffee Zone, Dino Kitchen, Monster Jelly, Porvous Body Spa dan masih banyak lagi.

Untuk itu, Majalah Franchise dan AFI memberikan penghargaan kepada merek waralaba potensial di Jawa Timur. Diantaranya, Tirta Ayu Spa, Pasmira, Bebek Rabek, Mushroom Factory, Coffee Zone dan Bebek Pak Jos. Waralaba-waralaba tersebut dinilai memiliki potensi besar dikemudian hari jika dikembangkan dengan serius. Kami berharap pemilik merek tersebut benar-benar konsisten mengembangkan bisnisnya karena memang punya keunikan dan ciri khas.

Selain merek-merek di atas, saya melihat banyak usaha-usaha lokal dari Jawa Timur yang bisa dikembangkan. Apalagi setiap daerah memiliki ciri khas. Seperti soto lamongan,  rujak cingur di Surabaya, nasi pecel di Kebumen, nasi lodho dari Tulungagung, nasi krawu dan gulai ubus di Gresik, tahu tek di Tuban,  dan sebagainya.  

Kuliner dari Jawa Timur tersebut jika dikemas dan dikembangkan bisa menjadi usaha unggulan yang bisa difranchisekan. Dengan begitu ekonomi di daerah sana juga bisa bergerak cepat dan bisa membuka lapangan pekerjaan untuk masyarakat sana. Syukur-syukur kuliner dari daerah sana bisa dikenal luas.

Apalagi saya melihat masyarakat Jawa Timur sangat kreatif dan banyak menekuni bidang usaha.  Bahkan ada fenomena menarik saat pameran IFBC kemarin. Saya melihat sebuah usaha menarik di pameran tersebut. Menariknya bukan karena produk dan usahanya yang unik, tapi produk tersebut berasal dari kreasi anak kecil. Nama usahanya Darin Kebab.  

Produk Darin Kebab ini diciptakan oleh anak yang masih duduk di bangku sekolah 5 SD. Anak ini menciptakan minuman yang bernama coklat shake. Dia juga mengembangkan produk kebab dengan berbagai toping. Salah satunya ia membuat inovasinya blueberry itu warnanya tidak biru, tapi rasanya blue barry. Menurut saya ini luar biasa, seorang anak 5 SD bisa menciptakan produk yang disukai orang.

Itu salah satu fenomena yang menunjukan bahwa gairah wirsusaha Jawa Timur memang tinggi. Anak-anak usia muda di sana sudah dilibatkan untuk beriwirausaha. Budaya tersebut menurut saya sangat positif sekali. Apalagi jika banyak yang mengikuti jejak pendiri Darin Kebab itu yang baru 5 SD. 

Jika wirausaha di Amerika bisa maju karena anak-anak Sekolah Menengah Atas di sana banyak yang menekuni usaha, maka tidak menutup kemungkinan perekonomian Jawa Timur bisa melaju pesat jika banyak anak-anak muda –apalagi yang masih sekolah dasar- dilibatkan untuk beriwirausaha.     

 

  

 

 

 

Bisnis itu Simpel, Mulailah dengan Market Base yang Besar
Gairah bisnis di Indonesia terus tumbuh, terutama di sektor UMKM atau bisnis yang menyasar segmen menengah bawah. Beberapa dari mereka ada yang berhasil mengembangkan bisnisnya hingga besar. Namun tid
Read More