Membangun Kekuatan Waralaba Nasional melalui Roadmap Waralaba

Saat ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyiapkan Roadmap Waralaba yaitu konsep pengembangan dan pembinaan usaha waralaba dan potensial waralaba (business opportunity), agar pelaku usaha waralaba menjadi pemain utama di pasar dalam negeri dan berdaya saing tinggi di pasar internasional.

Implementasinya akan disesuaikan dengan kondisi sektor waralaba yang berpotensi diwaralabakan di tiap-tiap daerah, dengan harapan dapat memperkuat sektor waralaba nasional sebagai pendorong pertumbuhan kewirausahaan. Selain itu juga meningkatkan jumlah pelaku Business Opportunity menjadi pelaku usaha waralaba yang mampu bersaing di pasar global, dan menciptakan usaha yang kondusif yang mendorong pertumbuhan usaha waralaba.

Roadmap waralaba ini juga dibuat untuk menyikapi minimnya informasi mayoritas pelaku usaha mengenai tata cara dan persyaratan agar usaha tersebut bisa menjadi usaha yang dapat diwaralabakan. Mengingat waralaba lokal saat ini hanya memiliki kesiapan di bidang teknis berwirausaha mulai dari sektor hulu, hilir hingga pemasaran.

Berdasarkan visi Roadmap Waralaba yakni menjadikan pelaku waralaba nasional sebagai pemain utama di pasar dalam negeri dan berdaya saing tinggi di pasar internasional, pemberlakuan Roadmap Waralaba ditetapkan untuk lima tahun kedepan.

Dimana pelaku usaha yang bergerak di bidang waralaba (franchise) dan kemitraan usaha (business opportunity) yang berpotensi menjadi waralaba dapat mengikutinya selama jenis usaha dan klasifikasi pasar memenuhi kriteria persyaratan waralaba.

Dalam roadmap waralaba tersebut, para pelaku usaha di bidang waralaba serta kemitraan usaha, akan diberikan pemahaman dan pembinaan secara mendalam terkait waralaba secara teknis antara lain, regulasi mengenai tata cara dan persyaratan perizinan STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba), pembuatan perjanjian dan prospektus waralaba, konsep bisnis dan kelayakan usaha, tata kelola bisnis waralaba mulai dari organisasi usaha, sistem manajemen operasional, sistem pemasaran, kekuatan brand dan sebagainya, serta peta potensi sektor usaha yang bisa diwaralabakan.

Adapun pasar-pasar potensial untuk bisnis waralaba biasanya didasarkan pada spesifikasi jenis usaha yang populer di negara tersebut. Sebagai contoh daerah Timur Tengah lebih menyukai bisnis kuliner dibandingkan daerah Eropa. Sementara di benua Eropa lebih populer sektor usaha jasa yang mengedepankan pelayanan seperti jasa kecantikan (antara lain spa).

Jika dipetakan secara umum dilihat dari peta regional Asia, negara yang memiliki pertumbuhan waralaba lokal tertinggi adalah Thailand yang tumbuh sebesar 20% tiap tahun. Namun negara dengan kontribusi pertumbuhan waralaba terbesar terhadap total penjualan eceran adalah Filipina yang memiliki kontribusi sebesar 15% dengan nilai US$ 5 juta pada tahun 2013.

Filipina juga memiliki merk-merk waralaba sebanyak 1.400 merk dengan jumlah gerai sebanyak 130.000 gerai yang mayoritas bergerak di sektor makanan, jasa, dan toko modern.

Sementara untuk pasar di regional lainnya saat ini Indonesia masih mencoba untuk membuka akses pasar ke regional-regional tersebut. Hal ini dilatarbelakangi oleh mulai banyaknya minat investor dari regional-regional tersebut untuk mengembangkan waralaba lokal Indonesia disana.

Bagi bisnis waralaba sudah maju dan memiliki banyak gerai, maka sistem manajemen bisnis yang sudah dikelola dengan baik agar dipertahankan dengan terus mengembangkan inovasi-inovasi baru.

Pelaku usaha dapat mengikuti inovasi berdasarkan perkembangan zaman seperti pemasaran melalui media elektronik ataupun pemasaran dalam bentuk lainnya inovasi tersebut tidak menyalahi aturan. Pelaku usaha waralaba dapat memanfaatkan market intellegence yang dikeluarkan oleh perwakilan perdagangan Kementerian Perdagangan di luar negeri sehingga tidak perlu takut untuk mengembangkan pangsa pasar hingga ke luar negeri.

Apabila bisnis waralaba masih dalam tahap perkembangan, para pelaku usaha waralaba dapat mengembangkan sistem manajemen bisnis dengan melihat best practice yang sudah ada. Membuat mindset agar usaha waralaba yang dimiliki harus berkembang menjadi lebih baik. Dengan persaingan usaha yang ada saat ini, salah satunya diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menuntut kita agar lebih bertahan dan maju.

Bagi business opportunity yang berpotensi menjadi waralaba, agar tidak pernah takut untuk mengembangkan usaha business opportunity yang dimiliki menjadi waralaba. Business opportunity yang menjadi usaha waralaba konsep bisnisnya memiliki ketahanan yang kuat, mudah diadaptasi dan dipercaya oleh masyarakat.

Mitra usaha (penerima waralaba) akan tertarik untuk membeli konsep bisnis tersebut. Konsep bisnis yang rapi dan memiliki ketahanan dibutuhkan terutama di era persaingan usaha saat ini.

Roadmap Waralaba akan dapat digunakan sebagai pedoman pengembangan usaha waralaba bagi seluruh pemangku kepentingan usaha waralaba di Indonesia. Dengan Roadmap Waralaba ini, diharapkan akan dapat membangun industri waralaba melalui tahap-tahap pembangunan yang tercantum di dalamnya.

  

Pendampingan UKM Waralaba Menjadi Prioritas di 2015
Tahun boleh saja berganti, tetapi program pendampingan UKM waralaba atau potensial waralaba pada 2015 akan tetap dijalankan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Karena program tersebut memang merup
Read More
Mendorong Waralaba ke Pemasaran Sistem Digital
Potensi pasar e-commerce sangat besar di Indonesia. Jika mengacu pada data Asosiasi Pengguna Jasa Internet Indonesia dan emarketer pada 2015 terdapat 88,1 juta pengguna internet dan 63,4 juta pengguna
Read More
Segera Miliki STPW Sebelum Dikenai Denda Rp 100 Juta
Hingga akhir 2014, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan 294 STPW kepada 105 Pemberi Waralaba Luar Negeri, 27 Pemberi Waralaba Dalam Negeri, 153 Penerima Waralaba Luar Negeri dan 9 Pemberi Warala
Read More
UKM Waralaba Terus Dipacu untuk Masuki Pasar Internasional
Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI terus memacu para pelaku Usaha Kecil Mikro (UKM) agar menjadi bisnis waralaba sehingga bisa memasuki pasar Internasional. Namun demikian, sebelum didorong untu
Read More