HENDY TANAKA Membuktikan Kepercayaan Orang Tua

Ketertarikkanya dengan dunia waralaba diakui Hendy Tanaka sudah tumbuh sejak lama bahkan ia menjadi pembaca setia Majalah Franchise Indonesia sejak dulu. Sejak itupula keinginannya memiliki bisnis waralaba terus bertambah. Sayangnya ia tidak memiliki modal untuk mengambil bisnis waralaba, sementara orang tuanya tidak bersedia memberikan pinjaman modal.

“Dari dulu saya ikuti majalah franchise, ingin ambil bisnis franchise tetapi tidak punya modal, mau pinjam orangtua juga tidak dikasi. Kata orang tua kalau ambil franchise jadi malas,” kenang Hendy, membuka pembicaraan saat dijumpai di outletnya di kota Solo, Jawa Tengah.

Pria kelahiran Solo, 1979 Mei itu menyadari bahwa didikan orang tuanya yang keras itulah menjadikannya seperti saat ini. Sukses mendirikan bisnis sendiri dengan merek Waffelicious yang juga ditawarkan melalui sistem waralaba. “Bisnis itu berawal saat saya jalan-jalan di Hong Kong, saya lihat bisnis seperti itu belum ada di Indonesia. Sempat saya pesimis karena di sana kompornya pakai arang dan jika di bawa ke Indonesia tidak mungkin bisa masuk mal. Ternyata yang jual pakai kompor listrik juga sudah ada. Itulah yang membuat saya semakin optimis akan sukses dibawa ke Indonesia,” kata Hendy.

Sepulang dari Hong Kong itu, ia mulai mempersiapkan segala sesuatunya, hingga berdirilah outlet pertama Waffelicious pada tahun 2012 di kota Solo. Selanjutnya dikembangkan melalui sistem kemitraan pada tahun 2013. Hingga saat ini, Waffelicious telah memiliki 110 outlet di sejumlah kota hingga pelosok Indonesia.

Dengan franchise fee yang dibayarkan hanya sekali senilai Rp 45 juta, Hendy optimis dapat mencapai target pembukaan 150 outletnya di tahun 2016. Jumlah tersebut menurut Hendy akan difokuskan ke daerah-daerah seperti Loksumawe, Palangkaraya, dan lain-lain.

“2016 kita lebih ke luar pulau di daerah-daerah pelosok seperti Loksumawe dan target kita 150 outlet di tahun 2016,” kata Hendy. Perkembangan outlet Waffelicious di Indonesia yang signifikan membawa berkah tersendiri bagi Hendy. Walaupun diakuinya hal itu cukup menguras tenaga dan pikiran.

“Saya sangat menikmatinya, karena kita bisa kenal banyak orang, bisa jalan-jalan ke kota mitra dan sudah pasti lebih mengenal Indonesia,” ungkap Hendy. Iapun sangat aktif berinteraksi melalui berbagai media dengan para mitranya di seluruh Indonesia. Hal itu untuk menjaga komunikasi dan hubungan yang telah terjalin dengan baik.

Pada kesempatan tertentu seperti training, ia menyempatkan diri untuk melakukan training langsung ke outlet mitra. “Mereka punya kontak saya, dan setiap saat bisa langsung menghubungi saya langsung jika ada informasi yang ingin di share,” kata Hendy.

Luqman Hakim, Sukses Memadukan Konsep Herbal dengan Fried Chicken
Pria berdarah Jombang, Jawa Timur ini tak patah semangat untuk menjadi seorang entrepreneur. Bermula dari bisnis pertamanya yakni klinik kesehatan herbal, pria bernama lengkap Luqman Hakim mengaku per
Read More
Ricky Fernando, Butuh 4 Tahun Membuka Pasar Ice Cream Thailand
Tidak ada bisnis yang gampang. Begitulah ungkapan yang keluar dari Ricky Fernando, pemilik franchise Ice Manias. Ketika ia memulai bisnis ice cream, ia membutuhkan waktu selama 4 tahun untuk menawarka
Read More
Siti Sahlani Tekuni Bisnis Karena Perasaan Bersalah
Bisa dikatakan wanita ini merupakan salah satu pegawai yang mendapat hidayah untuk terjun di dunia entrepreneur, wanita bernama lengkap Siti Sahlani ini tak menyangka bahwa dirinya menjadi seorang peb
Read More
Howard Sudihardjo, Help People First and The Money Will Follow Latter
Menjadi pebisnis itu jangan pernah takut gagal. Kalaupun gagal, maka harus cepat bangkit kembali. Inilah yang juga dirasakan oleh Howard Sudihardjo, Director Art Metal Laserindo. Gagal di bisnis-bisni
Read More