Franchisor Operator dan Franchisee Operator. Lebih Baik Mana?

Sistem franchise adalah duplikasi sukses bisnis untuk dijalankan oleh orang lain. Jadi, sebuah bisnis yang belum sukses bukanlah sebuah bisnis yang layak dipasarkan secara franchising. Sebuah bisnis dapat dikatakan sukses bila telah memberikan keuntungan dan telah kembali modal. Dalam franchising (sistem franchise), sebenarnya tidak hanya hal tersebut saja yang menjadi patokan, tetapi juga menuntut keahlian dari pemilik bisnis yang tinggi dalam mengelola bisnisnya (berpengalaman).

Hal ini disebut Mastery dalam bisnisnya. Para pebisnis ini mencapai suksesnya dengan caranya masing-masing, sehingga walaupun dalam bisnis yang sama, mereka akan mempunyai keyakinan yang berbeda, sehingga bila diduplikasi akan memberikan teknik dan cara yang berbeda pula. Atau dengan kata lain, setiap pebisnis mempunyai “winning concept” masing-masing bagi bisnis yang dijalankannya. Nah, winning concept inilah yang akan menjadi jiwa dari bisnis model yang diduplikasi oleh pemilik bisnis.

Dalam franchising, bisnis yang telah diduplikasi menjadi sebuah bisnis model tertentu ini akan dijalankan oleh “orang lain”. Bisnis ini bukan lagi milik pemilik bisnis pertama atau yang disebut sebagai Franchisor. Bisnis ini adalah milik “orang lain” yang dipercaya dan dipilih oleh Franchisor, atau yang disebut sebagai Franchisee.

Sekali lagi ditekankan, bahwa Franchisee itu dipilih dan dipercaya oleh Franchisor. Mereka yang dipercaya (para Franchisee) ini kemudian diberi pelatihan selama persiapan berbisnis dan diberi bantuan dan pelatihan tambahan ketika menjalankan duplikasi bisnis milik Franchisor berikut diijinkan untuk memakai brand dan sistem (Kekayaan Intelektual) milik Franchisor. Apa yang mengikat Franchisor dan Franchisee dalam franchising? Yang mengikat mereka adalah Kekayaan Intelektual (KI dulu disebut HKI) milik pemilik bisnis (Franchisor). Itulah sebabnya dalam franchising Franchisor memungut Royalty, yaitu sebagai imbalan atas Kekayaan Intelektual miliknya yang “disewa” oleh Franchisee untuk kurun waktu tertentu. Itu juga sebabnya, walaupun bisnis milik Franchisee masih merugi, selama Franchisee masih memakai Kekayaan Intelektual milik Franchisor, Franchisee tetap wajib membayar Royalty.

Dalam perkembangannya, ternyata banyak Fanchisor yang tidak sabar dalam memilih dan melatih Franchisee-nya. Juga ternyata banyak “Franchisee” yang memiliki modal tapi tidak mau mengerjakan sendiri bisnisnya. Antara calon Franchisee yang hanya mau menanamkan modalnya saja (seperti investor) dengan calon Franchisee yang ingin menjalankan sendiri bisnisnya (Owner Operator), bila diperbandingkan dari 10 orang, kira-kira hanya 30% yang ingin menjadi Owner Operator.

Sesuai dengan istilahnya, franchising sebenarnya lebih tepat dijalankan oleh Owner Operator atau dalam rubrik ini disebut Franchisee Operator, karena bisnis ini 100% milik Franchisee. Tetapi karena Franchisor kurang sabar dalam menyaring, memilih dan melatih calon-calon Franchisee-nya, maka Franchisor mencoba untuk membantu menjalankan bisnis milik Franchisee-nya dengan keterlibatan secara langsung, dimana dalam rubrik ini disebut Franchisor Operator. Sistem mana yang lebih baik, Franchisor Operator (sistem investor) atau Franchisee Operator (Owner Operator)? Secara teori, akan lebih baik bila bisnis dipegang oleh Franchisee sebagai operator. Pada kenyataannya, bisa saja lebih baik cara Franchisor Operator karena Franchisor mengenal benar bisnisnya, sehingga manufer bisnis yang diperlukan dapat segera dijalankan. Tapi tantangannya apakah sama keinginan Franchisor vs Franchisee dalam kecepatan pengembalian modal bisnisnya, atau dalam memperbesar keuntungan bisnisnya? Ingat, dari kacamata Franchisor, bisnis tersebut sekarang adalah milik orang lain, bukan milik Franchisor.

Demikian juga halnya dengan Franchisee Operator. Pada kenyataannya, sudah pasti Franchisee ingin segera dapat mengembalikan modalnya dengan cepat, tetapi apakah cukup gesit dalam manufer bisnisnya bila terjadi masalah-masalah dalam bisnis? Jawabannya secara keseluruhan adalah terletak pada pelatihan atau trainning dari Franchisor kepada Franchisee. Makin baik bentuk pelatihan dari Franchisor kepada Franchisee, maka akan makin baik hasil yang dijalankan oleh Franchisee (Franchisee Operator atau Owner Operator). Dan sebaliknya.

Hal lain, pengamatan dalam hal Franchisor menjadi Operator, biasanya Franchisor memiliki “produk” (baik barang maupun jasa) yang ingin didorong ke “konsumen”. Niatnyapun berbeda-beda. Ada yang melihat Franchisee sebagai konsumen agar sales produk Franchisor segera terjual (konsumennya adalah Franchisee).

Ada yang merasa takut bila Franchisee-nya mahir menjalankan bisnis tersebut, maka mereka akan lari dan menjadi kompetitor langsung. Ada pula yang memang pada dasarnya ingin mengatasi kerumitan alur produk dimana dibutuhkan kecepatan, ketelitian dan kepercayaan yang besar bila dipegang oleh “orang lain” (Franchisee) agar produk dapat segera sampai di konsumen. Franchising sangat erat hubungannya dengan seleksi karakter dan pembinaan entrepreneurship, maka pelatihan dalam mengembangkan sistem franchise adalah salah satu dari tiga inti terpenting dalam franchising (dua lagi adalah branding dan marketing).

Jadi bila ingin menjadi Franchisee, cobalah tinjau pelatihan apa saja yang akan diberikan oleh Franchisor. Juga sebaliknya, bila ingin memiliki Franchisee yang handal, seleksilah karakter calon Franchisee dan desainlah pelatihan-pelatihan yang akan membuat Franchisee mandiri.

Bisnis Waralaba untuk Ibu Rumah Tangga
Melakukan pemasaran bisnis secara waralaba (11) saat ini sudah mendunia. Lagi pula, di mata para pebisnis, dengan cara ini penguasaan pasar (market share) dapat dengan cepat dicapai tanpa modal sendir
Read More
Bersaing dengan Brand Franchisor Global
Bila kita berbicara persaingan dengan brand Franchisor tingkat dunia, maka pertanyaan harus diajukan ke dalam diri perusahaan pemilik brand Franchisor lokal terlebih dulu. Seberapa siapkah human resou
Read More
11: Dagang atau Membangun Kerajaan Binis?
Seringkali kita mendengar komentar orang memfranchisekan bisnis karena “latah-latahan”. Maksudnya ada yang hanya ikut-ikutan tren yang sedang ramai dilakukan orang, tetapi mereka tidak mempersiapk
Read More
Melindungi Merek Franchise Agar Bebas Sengketa
Dalam hidup ini terus muncul pertanyaan klasik yang selalu berulang dan bakal dijumpai oleh setiap pebisnis, misalkan: ingin membuat produk sendiri atau mengandalkan barang impor, kemudian uang yang s
Read More