Melewati Krisis

Setiap krisis memiliki dimensi dan dampak yang berbeda. Krisis tahun 1997-1998 misalnya, berdampak besar pada bisnis perbankan dan konglomerasi di Indonesia. Saat itu tercatat sedikitnya ada 16 bank dilikuidasi. Dalam krisis 1997-1998 itu Grup Salim kehilangan Bank BCA, Indocement dan Indomobil.

Ada pendapat bahwa krisis ekonomi global tahun 2008 yang dimulai dari Amerika tidak terlalu berdampak terhadap Indonesia. Meski Rupiah di tahun 2008 terdepresiasi hingga 35% (katadata.com), konon kita terselamatkan karena persentase ekspor kita yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan PDB nasional (elsaryan.wordpress.com). –catatan: meski persentase ekspor yang rendah ini menjadi blessing in disguise, neraca perdagangan yang terus tertekan oleh nilai impor yang makin tinggi dan tidak diimbangi dengan peningkatan nilai ekspor yang seimbang berpotensi membahayakan perekonomian Indonesia.

September 2015 nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika anjlok hingga menjadi lebih dari Rp 14 ribu per dolar! Menurut katadata.com anjloknya nilai Rupiah ini masih sekitar 14%. Semoga dampaknya tidak dramatis, meski bayang-bayang resesi dunia menghantui ekonomi global karena krisis sekarang ini dikaitkan dengan rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang konon berpotensi mengakibatkan resesi ekonomi seluruh dunia.

Apa dampak pelemahan nilai tukar Rupiah ini bagi bisnis anda? Bagaimana mengatasinya, atau melewatinya?

Lonjakan Harga Bahan Baku ImporBagi pebisnis yang menggunakan bahan baku impor, gejolak anjloknya nilai tukar rupiah ini berarti melonjaknya harga bahan baku. Akibatnya, bila harga jual tidak dinaikkan maka margin laba kotor akan mengecil dan margin laba bersih pasti tergerus.

Untuk menaikkan harga jual, kita harus mempertimbangkan kemungkinan pelanggan meninggalkan kita bila “value-for-money” dari harga jual kita dianggap “terlampau mahal” oleh para pelanggan kita. Apalagi kalau ternyata para pesaing tidak menaikkan harga.

Salah satu waralaba asing yang pernah ditutup oleh Penerima Waralaba Utamanya karena lonjakan nilai tukar dolar Amerika adalah Arby’s. Kewajiban menggunakan daging impor yang tentu menggunakan harga dolar dalam pembeliannya mengakibatkan bisnis Arby’s dianggap tidak prospektif lagi oleh terwaralabanya. Tidak jelas apakah penutupan ini dikarenakan apabila dilakukan penyesuaian maka harga jualnya menjadi terlalu tinggi dan terwaralaba tidak cukup pede (tidak confident) untuk melakukannya, atau ada hal lain.

Penurunan PenjualanBagi bisnis yang tidak menggunakan bahan baku impor, ternyata pelemahan nilai tukar ini berpotensi menyebabkan penurunan nilai penjualan. Hal ini dikarenakan daya beli konsumen yang menurun. Akibatnya, tentu saja laba bersih akan anjlok pula.

Salah satu cara menghadapi hal ini adalah menggali potensi pendapatan lain-lain. Langkah menyewakan teras untuk gerobak juice dan gorengan, sebagaimana yang dilakukan oleh Indomaret dan Alfamart, merupakan salah satu contoh upaya memperoleh pendapatan lain-lain. Demikian juga dengan strategi penjualan “rak-berbayar” di mini market tersebut.

Mengendalikan Biaya Bila pada akhirnya harga jual dan volume penjualan tidak mampu menghasilkan laba bersih yang diharapkan, maka pengendalian biaya menjadi upaya terakhir. Dalam hal ini seringkali biaya promosi dan pemasaran yang menjadi “sasaran”.

Mengurangi kegiatan promosi dan pemasaran yang terbukti efektif sebenarnya sangat beresiko mengakibatkan menurunnya pencapaian volume penjualan. Di tengah ketatnya arus kas, yang harus dihindari adalah kegiatan promosi dan pemasaran yang spekulatif dan berbiaya tinggi. Kegiatan promosi dan pemasaran yang terbukti efektif seyogyanya dilanjutkan. Itu sebabnya setiap kegiatan promosi dan pemasaran wajib dievaluasi hasil dan efektivitasnya.

Restrukturisasi HutangBila bisnis anda memiliki pinjaman ke lembaga keuangan bank maupun bukan-bank, maka salah satu tantangan terbesar saat melewati krisis adalah mempertahankan kemampuan membayar cicilan pinjaman tersebut.

Bila semua upaya sudah dilakukan dan ada kebutuhan untuk menegosiasikan kembali “besaran cicilan pinjaman” yang mampu anda bayar, maka ada baiknya anda menghadap pemberi pinjaman dan berdiskusi secara terbuka mengenai arus kas bisnis anda terkait jumlah cicilan yang sanggup anda bayar sesuai kondisi bisnis anda di tengah krisis ini. Tentu saja menurunkan besaran cicilan memiliki konsekuensi memperpanjang jangka waktu pinjaman anda.

Ekspansi WaralabaSecara umum strategi terbaik saat krisis adalah “menjaga kesehatan arus kas setiap gerai”, seperti: same store sales, jumlah pelanggan per hari, nilai transaksi rata-rata setiap pelanggan, persentase harga modal (HPP), dsb. Meski demikian, bagi yang punya dana dan sumber daya yang cukup, ekspansi bisnis di tengah krisis kadang memiliki beberapa keunggulan seperti: harga properti yang dijual di harga modal oleh investor properti yang tidak cukup kuat. Bahkan kadang ada yang memilih “jual rugi” di bawah harga modal saat ia membelinya beberapa tahun lalu. Tentu saja ekspansi harus dilakukan dengan berhati-hati, mengutamakan lokasi yang strategis dan tidak beresiko tinggi.

Utomo NjotoSenior Franchise ConsultantFT Consulting

4 Ciri Franchisor “Kejar Setoran”
Ketika saya mengungkap salah satu penyebab kegagalan bisnis waralaba adalah fenomena franchisor kejar setoran, beberapa orang menanyakan bagaimana cara mengidentifikasinya. Berikut ini 4 ciri pewaral
Read More
P-Factor
Sudah banyak pelatihan yang diberikan. Bahkan akhir-akhir ini sudah ditambahkan dengan pembinaan yang menggunakan format mentoring. Mengapa UKM kita terlihat lambat untuk tumbuh menjadi pewaralaba yan
Read More
Balik Modal
Ada kebutuhan mendesak untuk pengaturan lebih detail terkait transparansi informasi penawaran waralaba, BO, lisensi, kemitraan, atau apa pun istilah yang digunakan. Mengapa demikian? Persoalan utama
Read More
Bisa Waralaba?
Sejak awal jadi konsultan waralaba pada tahun 2000 hingga sekarang, saya sering mendapat pertanyaan mendasar, “Apakah semua bisnis bisa diwaralabakan?” Jawaban saya sering dianggap sebagai jawaba
Read More