JOGIST CLOTHING Peluang Kaos Oblong Kreatif Besutan Kota Gudeg

Jalan-jalan ke kota Jogja memang tak ada habisnya, mulai dari tempat wisatanya yang selalu ngangenin, Jogja juga sudah menjadi salah satu tujuan wisatawan domestik maupun mancanegara. Tak afdol rasanya jika kita berkunjung kota pelajar ini untuk menyempatkan membeli cinderamata. Banyak para wisatawan yang memberikan oleh-oleh yang simple dan berkesan, salah satunya adalah kaos oblong. Berbagai merek ditawarkan, mulai dari Gareng, Dagadu, Petruk dan Jogist.

Nah, merek yang terakhir ini menjadi salah satu yang tengah banyak digandrungi saat ini. Banyak ide kehidupan sehari-hari yang di tuangkan produk Jogist Clothing, serta plesetan-plesetan yang digunakan oleh kaum muda di kota Jogja yang dituangkan dalam desain produk Jogist.

Saptuari Sugiharto, Owner Jogist Clothing yang menekuni usahanya sejak 2011 yang sudah Berkecimpung di dunia fashion. Awal mulanya Saptuari tak sengaja tengah mengikuti Wirausaha Muda Mandiri, dari sinilah ia terinspirasi untuk melebarkan usahanya dengan sistem kemitraan. Produk kaos asal Jogja yang mengusung tema daerah, cletukan konyol daerah serta sejarah kota jogja, membawa inspirasi dirinya untuk menekuni peluang baru yang bisa menghasilkan profit. “Tapi dibarengi dengan konsep yang original”, jelasnya.

Tidak berbeda dengan clothing pada umumnya, Jogist pun mengusung tema desain berlatar belakang kehidupan Jogja seperti Cinta Jogja, Guyonan Jawa, Canda Pengusaha, Komunitas, Apa Saja (lebih nasional), Edisi Khusus. “Pikiran untuk membuka usaha clothing sebenarnya sudah terpikir sejak lama, namun baru terealisasikan 3 tahun silam ini,” beber Saptuari.

Pria bertumbuh tambun ini mengatakan, dirinya tertarik untuk menggeluti usaha kaos oblong ini terinspirasi dari kecintaannya pada kota kelahirannya. Ia ber-eksperimen untuk membuat kaos oblong anak muda yang berbahan nyaman dan tidak panas serta desain yang menarik. Ia juga diadopsi dari lelucon jawa, candaan pengusaha, hingga komunitas seperti fotografer, gadget, dan terkesan jiwa anak muda.

“Dengan berbekal modal pengetahuan lelucon khas kota Jogja, akhirnya saya buat kaos anak muda yang trend menyerupai outlet di distro dan pada akhirnya berdiri Jogist Clothing ini,” Ungkap Pria Lulusan S1 Geografi UGM Geografi ini ”.

Meski usahanya terbilang baru, Saptuari berani berekspansi untuk melebarkan sayap usahanya dengan menawarkan sistem kemitraan pada usaha yang digelutinya. Dengan modal dana minim ia gunakan untuk produksi kaos saja. “Dikarenakan konsep awal kita memang hanya jual di online, dan juga gencar melalui jejaring sosial seperti Twitter, Facebook, Website, Path,” bebernya.

Dari media online itu, menurutnya, respon yang didapat sangat positif, banyak orang yang tertarik akan desain-desain yang dibuat.

Demi mendukung sistem kemitraan yang diterapkan dengan membentuk perizinan usaha, Saptuari pun mengurus perizinan seperti membuat Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), dan mendaftarkan merek dagangnya ke Ditjen HKI (Hak Kekayaan Intelektual).

“Tentunya semua perizinan yang berkaitan dengan usaha saya ini sudah saya buat, dan untuk pendaftaran merek sudah saya daftarkan ke HKI, sekarang sudah terdaftar,” ungkapnya.

Hingga saat ini distributornya berjumlah 1 yang berada di Wonosobo, Sedangkan untuk agen nya sudah berjumlah sekitar 30 dan tersebar hingga ke seluruh pulau jawa. “Alhamdulillah semua mitra kita masih aktif,” akunya.

Menyinggung keuntungan yang didapat setiap kali mendapat mitra, ia memaparkan untuk perbulan mampu meraup omzet Rp70 juta. “Untuk pendapatan kita tiap harinya mampu menjual 2 lusin itu minimal,” ungkapnya.

Saptuari mengaku memang lebih membidik pasar menengah ke atas, untuk itu kualitas kaos oblong yang ia produksi pun memiliki kualitas yang bagus dan nyaman dikenakan, karena memang ia menggunakan bahan Katun Combed untuk kaos-kaosnya.

Untuk proses pembuatan kaosnya, ia yakin dengan sistem kemitraan kapasitas produksi dalam sebulan bisa mencapai 3720 kaos, dan akan terus berinovasi dengan membuat 3-4 desain baru tiap tahunnya. “Yang terpenting desain kaosnya kita per-bulan ada upgrade biar mitra dan distributor kita tidak jenuh,” jelasnya.

Jogist Clothing menawarkan dua jenis kerjasama, yakni menjadi Distributor dengan investasi sebesar Rp 25 juta. Dari investasi tersebut Mitra akan mendapatkan 17 lusin Kaos tema Anak Islami dan materi promosi seperti katalog, banner, selain itu Mitra akan mendapat fasilitas iklan di media.

Selain kerja sama di atas, Jogist Clothing juga menawarkan kerja sama Paket distributor dengan investasi sebesar Rp 5 juta hingga Rp 500 juta. Dari investasi tersebut Mitra akan mendapatkan kaos, banner perlengkapan penunjang, katalog, banner, seragam karyawan, dan buku panduan SOP. Alvin Pratama

Perkuat Bisnis dengan Standar Kualitas Produk
Tahu goreng merupakan salah satu camilan yang paling banyak digemari. Sudah banyak pengusaha kuliner yang mencoba mengkreasikan tahu menjadi berbagai sajian nikmat. Salah satunya "Tahu Jeletot Taisi"
Read More
Warung Sangrai Pelopor Warung Olahan Daging Puyuh Bebas Kolestrol
Dikenal sebagai pelopor olahan daging puyuh bebas kolesterol, Warung Sangrai, menawarkan kemitraan usaha sejak 3 tahun silam. Seperti apa? Bisnis kuliner berbahan dasar olahan unggas memang sudah laz
Read More
Menembus 200 Outlet Dalam 1 Tahun
Siapa yang menyangka, bisnis yang berawal dari pencarian di internet ini bisa memiliki 200 outlet lebih hanya dalam kurun waktu satu tahun. Seperti apa peluang bisnisnya? Didirikan oleh Cahyo Adhi W
Read More
AGTL Ny. Nani S Eksis Sejak 23 tahun, dan Go Franchise
Restoran Ayam Goreng Tulang Lunak Ny. Nani S sudah beken di Jakarta. Pelopor ayam tulang lunak ini terkenal sebagai rajanya nasi boks. Tahun ini mulai difranchisekan. Jika kebetulan jalan-jalan ke
Read More