Identifikasi Permasalahan Waralaba Di Indonesia
Tiga minggu yang lalu kami diminta untuk memberikan seminar di Bandung. Pihak terkait di sana meminta kami untuk membahas tema terkait dengan identifikasi masalah waralaba di Jakarta. Saya sampaikan kepada mereka bahwa permasalahan waralaba baik di Jawa Barat atau di Indonesia kurang lebih sama. Maka kemudian saya angkat tema yang lebih luas menjadi “Identifikasi Permasalahan Waralaba di Indonesia”, karena kami nilai permasalahan waralaba di Indonesia adalah spesifik. Untuk itu kami membagi atau memetakan permasalahan waralaba di Indonesia ke dalam dua bagian. Bagian pertama adalah identifikasi yang berkaitan dengan konsep bisnis waralaba. Dan bagian kedua identifikasi yang berkaitan dengan pengelolaan bisnis waralaba. Bagian pertama identifikasi yang berkaitan dengan konsep bisnis waralaba meliputi pemahaman akan konsep bisnis waralaba yang sesungguhnya. Bisnis franchise adalah suatu konsep pemasaran dan strategi perluasan; yang kemudian berkembang menjadi konsep bisnis yang unggul dengan memenuhi kriteria-kriteria. Kriteria waralaba yang dimaksud sebagaimana yang termaktub dalam PP 42 Tahun 2007, meliputi atas 6 kriteria, yaitu memiliki ciri khas usaha, terbukti sudah memberikan keuntungan, memiliki standar atas pelayanan barang dan jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, mudah diajarkan dan diaplikasikan, adanya dukungan yang berkesinambungan,dan hak dan kekayaan intelektual yang telah terdaftar. Berikutnya, 11 atau konsep bisnis franchise. 11 adalah suatu proses mengkemas suatu usaha yang telah sukses dan bertahan, yangkemudian diberikan pada orang lain untuk dipakai dan mengembangkan keberhasilan bisnisnya pula. Yang perlu dipahami, 11 adalah bukan partnership, karena dalam partnership para partner akan berbagi keuntungan dan kerugian bersama dalam satu usaha yang sama. Sementara dalam franchise tidak demikian, antara franchisor dan franchisee memiliki bisnis masing-masing di mana baik keuntungan dan kerugian bisnis franchisee ditanggung masing-masing, tidak melibatkan siapa pun karena kepemilikan bisnis dimiliki secara pribadi. Selanjutnya, yang perlu ditekankan bahwa franchise bukan usaha untuk jangka pendek, tapi untuk jangka panjang dan bukan jalan keluar untuk mengatasi masalah keuangan. Banyak orang berpikir dengan memfranchisekan usahanya dia akan terbebas dari masalah keuangan. Franchise adalah memberikan yang terbaik kepada orang lain dari bisnis kita dengan imbalan tertentu dari royalti dan seterusnya. Franchise juga harus berawal dari suatu usaha yang telah berhasil dan kemudian dikembangkan karena pangsa pasarnya masih besar. Franchise merupakan peluang bisnis, namun peluang bisnis atau Business Opportunity itu sendiri belum tentu waralaba. Franchise harus memenuhi kriteria-kriteria franchise dan sudah berjalan lebih dari 5 tahun. Franchise bukan untuk akal-akalan dengan menambahkan kata-kata tradisionil, personal dan syariah serta tidak mengenal diskriminasi. Dalam franchise, franchisee berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan selama dan sesudah perjanjian franchise, itu etika dan biasa termaktub dalam perjanjian. Dan yang terakhir, dalam konsep franchise ada istilah proses terminasi, yaitu suatu proses di mana franchisee tidak dibenarkan bersaing, baik langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan atau memanfaatkan pengetahuan franchise yang telah diperolehnya. Dalam suatu perjanjian franchise antara seorang franchisor dan seorang franchisee, terbawa pula dua (2) pihak yang tidak ikut menandatangani perjanjian tersebut, yaitu pihak franchisee lain dalam jaringannya dan konsumen. Bagian kedua, identifikasi permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan bisnis waralaba. Di Indonesia diperkirakan ada sekitar 300 usaha waralaba asing dan 2100 usaha waralaba dan peluang usaha (BO) nasional. Sayangnya, dari jumlah 2100 hanya tidak lebih dari 100 usaha yang layak disebut waralaba. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, berikut penjabarannya. Kurangnya jumlah waralaba yang berkembang di Indonesia disebabkankarena kurangnya unsur entrepreneurship yang dimiliki oleh sebagian besar pengusaha peluang usaha yang cukup banyak. Perilaku yang mau cepat berhasil menyebabkan para pemilik usaha tidak mau berpikir panjang memajukan usahanya ke depan, pikirannya sudah money oriented, tidak berpikir jangka panjang. Selain itu, umumnya pelaku usaha tidak mempunyai visi dalam berbisnis, mengerjakan secara asal-asalan dan tidak cukup tekun dan ulet mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Mereka ingin cepat jadi dan cepat puas serta tidak mengerti kriteria-kriteria yang harus dipenuhi, yaitu di mana keunggulan pola franchise seyogyanya mesti memanfaatkan skala ekonomi, sudah dijalankan secara effisien, effektif dan pola operator adalah pemilik. Tidak sampai diitu, masalah yang muncul adalah menjaga perbandingan dapur dan gerai, sehingga tidak terjadi ketidakseimbangan.Itu yang menyebabkan biaya overhead menjadi berat sebelah dan tidak terbagi dengan baik. Seharusnya usaha waralaba juga harus memperhitungkan secara cermat skala usaha-usaha gerobak yang terlalu kecil sehingga mengalami kesukaran dalam bertahan, karena usaha terlalu kecil sehingga hanya untuk habis dimakan dan dipakai sendiri. Sementara dari sisi franchisor, mereka hanya bisa hidup dan bertahandengan mendasarkan pada royalty fee dari franchisee d.p.l. Dengan begitu, franchisor menjadikan franchisee sukses. Karena itu, franchisor harus menguasai secara menyeluruh segala usaha, kendala-kendala dan telah mengatasi masalah yang dihadapi dari A sampai Z, mulai dari penentuan segmen pelanggan, program pemasaran usaha dan produk atau jasa, cara menjual dan mengelola bisnis, merekrut SDM, melatihnya dan seterusnya. Lalu dia juga harus membuat penentuan lokasi, administrasi atau sistem akuntansi, rekrutmen pegawai, penyusunanSOP, menjalankan standarisasi, program pelatihan dan seterusnya. Demikian berbagai pemasalahan yang mesti dipahami oleh setiap insan franchise untuk menjadikan industri franchise yang lebih sehat dan berkembang dengan baik di Indonesia.
NextGen Franchising, Tema yang Akan Meramaikan WFSI
World Franchise Summit Indonesia 2016 (WFSI) akan diselenggarakan bulan depan. Acara besar berlevel internasional itu akan dihadiri oleh delegasi asosiasi franchise dari berbagai negara. Salah satunya
Read More
Implementasi Program AFI 2014
Sebagaimana telah kami sampaikan edisi Januari 2014 lalu,bahwa Asosiasi Franchise Indonesia telah menyusun berbagai program yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2014. Program kerja dan kegiatan yang
Read More
Memproteksi Keunggulan Bisnis
Banyak merek-merek bisnis di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk difranchisekan. Di sektor bisnis kuliner saja tidak terbilang banyaknya. Sebut saja nama-nama beken seperti Bakmki Gajah Mada a
Read More
Lisensi, Keagenan, BO dan Franchise. Serupa Tapi Tak Sama
Bisnis franchise memang sudah familiar di Indonesia saat ini. Berbeda jika kita tengok pada 10 atau 20 tahun yang lampau, di mana banyak orang di dunia bisnis yang belum begitu aware dengan franchise.
Read More