Renny Rantika, Sukses Mengembangkan Jaringan Waralaba Ayam Keprabon

Bersama suami tercinta, dia membongkar tabungan terakhirnya untuk memulai usaha dari rumahnya yang sederhana. Kini ia sukses mengembangkan jaringam waralaba Ayam Keprabon ke penjuru nusantara. 

Memulai bisnis bisa dari mana saja. Asal ada kecintaan dan gairah pada bisnis tersebut maka jalan menuju keberhasilan pun tidak sulit ditempuh meski harus melalui bergbagai macam kegagalan dan persoalan. Seperti yang dialami wanita pebisnis sukses yang satu ini.

Wanita kelahiran Surakarta, 1989 sejatinya memulai bisnis dengan segala keterbatasan. Ia besama sang suami memulai bisnis ayam pada 13 Juli 2015, di rumahnya yang sederhana, di Jl Teuku Umar No 27 di Surakarta. Kala itu ide bisninya hanya coba-coba. Ia mencoba menciptakan ayam geprek yang berbeda dari yang lain.

Waktu itu, kedai ayam geprek tengah trend dengan menawarkan sambal dengan level kepedasan yang bermacam macam. Nah, ia ingin mencoba mencitpakan produk ayam geprek yang berbeda, geprek yang siapa pun yang membuat rasanya sama, geprek berkualitas dan enak di kota Solo yang bisa diterima di semua segmen.

Kebetulan suaminya hobi dan memiliki keahlian memasak. Sebelumnya, ia dan suami pernah mencoba 10 macam usaha, salah satunya bisnis rumah makan namun itu semua tidak berjalan baik. Bisnis dari turunan keluarga juga sudah pernah dikerjakan namun tidak berjalan. “Mungkin sudah jalan Tuhan, dan mungkin tidak ada kecintaan di bisnis itu. Di bisnis ayam geprek ini kami menjalani dengan kecintaan,” katanya.  

Kali ini ia yakin racikan suaminya menuai hasil. “Maka kami mulai produksi di dapur, di dari rumah kami yang kecil.” kenangnya.

Sebelum dijual, ia coba tes pasar di keluarga terdekat. Begitu sudah menemukan formulas rasa yang khas dan enak ia pun menjualnya ke masyarakat luas. Suaminya yang bertindak sebagai juru masak, alias bagian produksi di dapur. Renny sendiri bertindak sebagai HRD, marketing dan merangkap keuangan, dibantu dua orang karyawan.

Untuk memulai semuanya tentunya diperlukan modal untuk membeli bahan baku, alat-alat masak, dan biaya produksi lainnya. Maka ia pun harus memecahkan tabungan terakhirnya. “Puji Tuhan respon pasar bagus. Banyak konsumen yang menyukai ayam geprek kami. Kalau saja tidak ada tabungan terakhir kami tidak tahu akan seperti apa kondisinya,” kenang Istri dari Yonathan Sebastian ini.

Apalagi, saat itu dirinya sedang hamil tua 9 bulan. Terkadang ia harus harus menjadi kasir, waiter dll.  Semetara suami memang punya keahlian membuat geprek. “Tapi kami tidak menjadikan kendala karena kami mencintai dan menikmati proses ini,” tegasnya. 

Karena modal terbatas, ia pun harus memutar otak mendapatkan bahan dari suplair kecil, melalui tangan ketiga. “Kami juga melakukan setting menu secara sederhana. Cara memasarkan produk juga dengan media sosial, tidak punya uang untuk bayar spanduk,” bebernya. 

Akan tetapi semua jerih payahnya sudah terbayar dengan sukses membuka usaha di rumah dengan nama Ayam Geprek Keprabon. Sukses membuka usaha dari rumah, Renny pun berencana membuka cabang. Dia juga sudah menggunakan suplair utama, sehingga bisa produksi lebih banyak.

Namun rupanya kendala menghampirinya. Selain terjadi pergantian karyawan, beberapa konsumen komplein bahwa rasa di cabang pertama tidak sama dengan cabang yang kedua. “Kok rasanya tidak sama, kata pelanggan kami. Tapi itu jadi tantangan tersendiri, kami mulaio selaraskan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang kami buat. Standar rasa pun bisa diatasi,” 

Kemudian ia juga membuat modifikasi menu produknya. Yang awalnya hanya menjual ayam geprek biasa, Renny melakukan modifikasi menu dengan membuat ayam geprek mozarela atau blenger. Kita melakukan study kasus, mencari customer need, riset berkala sehingga ada tambahan menu,” jelasya. 

Untuk mendukung perkembangan bisnisnya, Renny terus belajar, mencari referensi dan konsultasi dengan para expert dan berbagi pengalaman antara sesama pengusaha kuliner. “Karena kami ingin membangun sistem dengan manajemen yang kuat. Sehingga mampu menjawab keinginan pasar,” tandasnya

Memasarkan Lewat Franchise

Setelah sukses membuka cabang sendiri dan membuat SOP yang baku, Renny pun memasarkan Ayam Keprabon lewat franchise pada 2017. Dalam waktu singkat cabang franchisenya berkembang pesat seiring banyaknya peminat dar investor.  

Kini, usaha yang dirintisnya sudah berkembang pesat memiliki 57 outlet yang tersebar di berbagai kota terutama Jabodetabek. Di luar itu ada di Malang, Makassar, Surabaya, Medan, Banjarmasin dll. Rata-rata gerai Ayam Keprabon mampu membukukan omzet Rp 300 jutaan per bulan.

“Ada yang rendah, ada pula yang lebih tinggi tergantung daya jual dan lokasinya. Para franchisee kami umumnya balik modal di 2 tahun, tapi banyak yang di bawah itu tergantung omzet masing-masing franchisee,” kata lulusan S1 Ekonomi Sumber Daya Manusia ini. 

Kedepan, Renny akan terus buka outlet Ayam Keprabon di setiap penjuru di Indonesia. “Target kami membuka 100 outolet, kami akan menysul secepatnya dengan kesiapan tim yang baik,” tagasnya wanita yang hobi traveling.

Renny mengakui, bisnisnya mampu berkembang pesat karena memasarkan lewat pola frachise. “Secara jujur kami besar dari franchise. Sejak memfranchisekan usaha ini pada 2017, saat itu pula responnya begitu baik sampai terjadi antrean trus setiap bulannya, bahkan sampai sekarang antusias dari investor masih banyak.

Meski demikian, bukan hal yang mudah mengembangkan jaringan bisnis lewat franchise. Menurutnya, dibutuhkan kiat sukses antara lain membangun manajemen support yang baik, membangun sistem dan produksi yang baik baik, dan juga SOP yang baku, “agar bisa dijalankan mitra bisnis kita, para pembeli franchise kita denga baik,” jelasnya.    

Faktor SDM memang menjadi kendala bila tidak disikapi dengan bijak. Renny termasuk typical pengusaha yang mampu membangun SMD dengan baik. “Tenaga kerja tidak masalah saya bisa merangkul anak-anak muda dan menjadi kesatria keprabon,” katanya. 

Selain itu, kendala yang sempat dihadapi Renny ialah membangun manajemen yang kuat, organisasi bisnis yang baik dan SOP yang baku sehingga bisa mengerjakan dengan baik. “Sempat ada masa kebingungan dalam menata manajemen, tapi itu proses yang harus kami lalui dan saya menikmatinya,” jelasnya

Tanyangan saat ini menurutnya, bagaimana memenangkan pasar di tengah persaingan sehingga dirinya perlu mengedepankan servis, mengedepankan kualitas, SOP dll.  “Bagaimana memenangkan pasar. Maka kami terus branding,” ujarnya.

“Branding itu susah-susah gampang, namun kalau branding sukses orang akan tahu, akan dicari. Tapi cara marketing konvensional tidak boleh dilupakan, iklan, rajin promosi dan represf sehingga ayam keprabon melekat di benak customer. “Kami ada promo tahunan memanjakan customer kami yang disebut Sahabat Keprabon dengam memberikan diskon dan promo lainnya,” jelasnya. 

Zaziri

 

 

Oka Kauripan, Segala Rintangan Pasti Ada Jalan Keluarnya
Oka Kauripan adalah Direktur Operasional LJ Hooker Indonesia, yang berperan terhadap pengembangan franchise LJ Hooker di Indonesia. Ia bertugas memimpin tim support franchise yang terdiri dari trainin
Read More
Sonny Arcya Adryanto, Mantan PNS Yang Berlabuh di Bisnis Martabak
Enam belas tahun berkecimpung dunia Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Keuangan tentu bukanlah hal yang singkat bagi Sonny Arcya Adryanto dalam menapaki karier. Karena itu, tak mudah baginya un
Read More
Yonathan Sebastian Liyanto, Berawal dari Kecintaan yang Membuahkan Hasil
Terlahir dari keluarga pebisnis membuat pria bernama lengkap Yonathan Sebastian Liyanto tidak bertahan lama bekerja di perusahaan. Beberapa jenis usaha sudah pernah ia geluti, mulai dari usaha toko se
Read More
Elihu Nugroho Lahirkan Ide Cuci Mobil Tanpa Air
Elihu Nugroho adalah salah satu pengusaha yang kreatif dan jeli melihat masa peluang bisnis yang belum digarap banyak orang. Pria ini melahirkan konsep mencuci tanpa menggunakan air yang nyatanya belu
Read More